Oo polaroid, Oo….

October 1, 2010

Hari ini saya dan Lutfan pergi mengunjungi pak Gilles untuk membicarakan rencana rahasia untuk kalian semua. Kebetulan saya baru saja dapat film untuk kamera polaroid spectra lama saya. Karena gatel, tadi langsung saja kita tes filmnya. Dan ternyata, hasilnya mengagumkan. Sentuhan dan feel analognya sangat kuat.

Film fotografi analog seperti polaroid memang sudah terancam keberadaannya dengan munculnya kamera digital yang lebih murah, lebih praktis, lebih modern, dan lebih edit-friendly. Coba bandingkan dengan kamera film yang harus dicetak, menggunakan bahan-bahan kimia yang mahal, tidak praktis, dan seterusnya. Yang kemudian mengakibatkan perusahaan Polaroid banting setir ke kamera digital dan MENGHENTIKAN produksi kamera dan film analog tahun 2008. Tapi………….. Hal ini tidak membuat kecintaan terhadap analog hilang, beberapa orang yang tertarik dan terpanggil untuk melestarikan kamera dan film analog memutuskan untuk membeli pabrik polaroid dan melakukan riset dari 0 (nol) untuk mengembangkan kembali film analog. Pergerakan ini merupakan pertanda bahwa analog masih dicintai.

Dibandingkan dengan citra digital, citra analog lebih memainkan rasa. Sifatnya yang unpredictable membuat orang-orang berhati hati dalam mengambil gambar. Hal ini memunculkan kepuasan tersendiri bagi penikmat film analog, karena dibutuhkan ROMANTISISME dalam memainkan film analog. Inilah yang tidak dimiliki oleh kamera-kamera digital yang bisa dijepret sebanyak yang kita mau, bisa dikopi dan diedit dengan segala kepraktisan lainnya. Justru dengan kesulitan dan kerumitan tersendiri, bermain dengan film analog terasa lebih berharga.  Begitu pula dengan gitar masal dan gitar custom atau boutique.

Gitar custom/boutique mewakili kamera-film analog, ketika gitar pabrikan masal merepresentasikan kamera digital. Betapa pun pabrikan masal itu lebih murah, lebih “aman” dan lebih praktis, mereka tidak bisa menandingi nilai romantisme dari sebuah gitar custom/boutique. Dalam membuat sebuah gitar custom/boutique, proses pengerjaannya dilakukan secara handmade, semua aspek detailnya benar benar dilakukan dibawah supervisi yang sungguh-sungguh dari para luthier. Effort yang tidak mudah inilah yang memberikan nilai tersendiri untuk gitar gitar tersebut. Biar bagaimanapun, film analog dan gitar gitar custom/boutique tidak akan mati. Selama akal kita masih bisa mengapresiasi sebuah karya yang romantis, selama itu pula masih akan banyak bermunculan karya karya yang berjiwa dan berkarakter. Long live our mind!

Cheers…

Saska

Vintage exposure of AGL

  Diabadikan di Lembang saat mau hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: